Nilai-nilai Kearifan Lokal Dalam Film "Tarung Sarung" (2020).

Hi, Hello, Annyeong! 

Setelah sekian lama tidak menulis di blog ini akhirnya aku menulis lagi untuk yang ketiga kali-nya!! 

Setelah dua topik terakhir yang rasanya sedikit serius, kali ini aku akan bahas tentang sebuah film yang dimana isi dalam film ini terdapat unsur-unsur atau nilai-nilai kearifan lokal. 

Kita pasti udah sering banget nonton film dan tanpa sadar di film yang kita tonton itu menyiratkan kearifan lokal, loh!

Nah!, judul film yang akan aku bahas ini adalah "Tarung Sarung (2020)". Kira kira gimana sih ceritanya? Check it out! 

Sumber : https://g.co/kgs/A67ka2


Film 'Tarung Sarung' adalah film yang mengangkat konflik asmara dan budaya lokal asal Makassar ini digarap oleh sutradara Archie Hekagery. Film ini berlatarkan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan. Film ini bergenre drama/religi dengan durasi 115menit dan di rilis pada tanggal 31 Desember 2020.

Secara singkat, film ini menceritakan tentang anak pengusaha kaya yang menganggap uang adalah segalanya, bahkan ia sampai tak percaya dengan kekuasaan Tuhan. Anak itu bernama Deni Ruso yang merupakan anak dari pemilik Ruso Corp. Deni sering terlibat keributan dan perkelahian berkeroyok. Namun, ia selalu dilindungi oleh Om Badul dan anak buahnya. Hingga suatu saat Ibunda Deni marah luar biasa kepadanya dan memutuskan untuk mengirimnya ke Makassar. Ibunda Deni ingin anaknya belajar untuk mengurus salah satu kantor Ruso Corp yang ada di sana, sehingga tidak sibuk lagi dengan perkelahian. Ancaman akan mencabut semua fasilitas mewah pun berhasil membuat Deny menuruti kemauan ibunya itu.

Saat Deni sampai di Makassar, ia disambut oleh Tutu dan Gogos yang menjadi pegawai magang di Ruso Corp. Saat Deni berjalan-jalan menikmati indahnya pantai di Makassar, ia dipertemukan dengan gadis aktivis lingkungan yang bernama Tenri. Tenri ini sangat membenci Ruso Corp karena dianggapnya merusak lingkungan. Akhirnya Deni pun memilih untuk menyembunyikan identitasnya sebagai anak pemilik Ruso Corp agar bisa dekat dengan Tenri.

Saat Deni mulai akrab dengan Tenri masalah pun muncul. Sanrego yang selama ini jadi juara bertahan tarung sarung di Makassar tak terima jika Deni mendekati Tenri. Sanrego pun menghajar deni habis-habisan dan menantangnya untuk tarung sarung. Tarung sarung atau budaya sigajang laleng lipa ini merupakan budaya Makassar satu lawan satu dengan tangan kosong atau bandik yang dibatasi kain sarung. Dengan adanya masalah itu, Deni pun berguru kepada Pak Khalid, paman dari teman Tenri. Pak Khalid yang merupakan pengurus masjid atau marbot awalnya tidak mau menerima Deni sebagai muridnya karena ia mengetahui Deni tak percaya dengan kuasa Tuhan. Namun, setelah melihat kesungguhan niat Deni untuk berlatih tarung sarung akhirnya Pak Khalid pun mau mengajarinya dengan syarat ia harus mau belajar kembali percaya dengan adanya Tuhan. Pak Khalid pun mendaftarkan Deni untuk mengikuti kejuaraan nasional tarung sarung agar bisa melawan Sanrego.

Mau tau kelanjutannya gimana? Langsung aja nonton di situs resmi, di Netflix ya! Jangan bajakan. :D

Nah! Setelah tau sinopsisnya gimana, dan aku sendiri pun udah selesai nonton, aku akan bahas nilai-nilai kearifan lokal yang ada di film ini. 

1. Tarung Sarung

Tarung Sarung atau dalam bahasa makassar disebut dengan "Sigajang Laleng Lipa". Tarung sarung adalah olahraga atau tradisi dari warisan nenek moyang yang di lakukan secara turun-temurun. Secara teknis bermain tarung sarung ini adalah, 

1 orang melawan 1 orang, yang dihadapkan secara langsung, dengan posisi kedua orang tersebut berada di dalam sarung. Tarung sarung sendiri tidak bersifat keroyokan atau beramai-ramai. Orang Bugis-Makassar terbiasa untuk bertarung 1 lawan 1, tidak ada keroyokan atau pun beramai-ramai. 

Orang Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi rasa malu, harga diri dan juga kehormatan. Jika mereka merasa di permalukan maka solusinya adalah Sigajang Laleng Lipa', atau biasa dikenal dengan tarung sarung. 

2. Uang Panai

Uang Panai atau Panaik adalah tradisi yang harus di lakukan ketika hendak melakukan pernikahan. Uang panai dapat di artikan sebagai pemberian harta dari calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita. Uang panai adalah bentuk atau lambang penghormatan suku Bugis asal Makassar kepada perempuan yang hendak di nikahinya. Selain itu uang panai sendiri dapat dikatakan sebagai uang belanja. 

3.Mappalette Bola

Siapa yang mengira-ngira mappalette bola adalah salah satu bentuk permainan bola? Ternyata bukan, lho! 

Mappalette Bola adalah tradisi pindah rumah, yaitu prosesi pemidahan rumah suku adat bugis. Tradisi Mappalette Bola ini dilakukan dengan mengangkat bangunan rumah yang dilakukan oleh puluhan hingga ratusan warga. Tidak hanya asal angkat, kegiatan ini dipimpin oleh tetua adat yang akan membaca doa dan mantra, serta memberikan aba-aba dalam proses pemindahan rumah ini. 


3 Hal di atas adalah salah tiga dari kearifan lokal kota Makassar. Sebenarnya masih ada lagi seperti :

-Bahasa daerah yang masih digunakan dan sangat kental.

-Masih banyak rumah adat atau rumah panggung yang di sebut dengan  Balla Lompoa. 

-Pakaian adat Bugis yang di sertai dengan penutup kepala yang biasa kita sebut kopiah. Yang dipakai pada saat pertandingan Tarung Sarung. 

-Lalu ada Kue Barongko, makanan khas asal Sulawesi Selatan khususnya Makassar. 


Yang menarik dalam film ini menurut aku bagaimana bahasa daerah itu tetap di pergunakan di era modern ini yang dimana-mana orang sudah mulai melupakan bahasa daerahnya. Lalu pakaian adat yang dipakai pada saat lomba tarung sarung nasional. Disaat semua berlomba-lomba memakai kostum modern, di film ini mereka menggunakan pakaian adat disertai penutup kepala atau kopiah. 


Saran terhadap pengembangan eksistensi nilai-nilai kearifan lokal ini adalah :

1. Mengenalkan kepada dunia apa itu "Tarung Sarung", agar tetap dikenal dan dilestarikan. 

2. Membawa "Tarung Sarung" menjadi olahraga atau permainan berskala nasional maupun internasional. 

3. Melestarikan tradisi dengan mengajarkan kepada siapapun tentang "Sigajang Laleng Lipa"

4. Tetap menggunakan bahasa daerah serta pakaian daerah guna menghindari lunturnya kearifan lokal. 


Sumber :

https://www.idntimes.com/life/inspiration/anami/tradisi-uang-panai-suku-bugis-makassar-c1c2

https://amp.kompas.com/makassar/read/2022/09/17/181148478/5-tradisi-unik-suku-bugis-dari-mappalette-bola-hingga-sigajang-laleng-lipa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Film "Split (2017)" Satu Tubuh Banyak Kepribadian.

Analisis Gaya Kepemimpinan Presiden Jokowi dalam Acara KTT G20 di Bali.